Senin, 29 Januari 2024

KEBOHONGAN SEBUAH PEMBAHARUAN

Ini bukan tentang politik ataupun sejenisnya namun, ini adalah kritikan seorang siswa kelas 11.  Modern adalah sebuah hal ajaib yang mengubah dunia namun, MODERN INI MEMBAWA KEBODOHAN DAN PENDERITAAN. 

Ini bukan rekayasa atau cerita fiksi yang bertujuan menghibur ini adalah kisah nyata dari hadirnya pembaharuan yang tidak sesuai. Semenjak Covid-19 melanda, sekolah melakukan sistem daring secara menyeluruh. Ulangan dan tugas dilakukan melalui internet, google form dan lain sebagainya. 

Tulisan ini bukan membahas hal-hal yang terjadi pada masa Covid-19. Sudah seharusnya kita berterima kasih berkat kecanggihan internet generasi penerus bangsa bisa tetap memperoleh ilmu walaupun dunia tengah dilanda bencana besar. Namun, penggunaan setelah bencana ini melanda dengan sistem yang kurang aman akan menimbulkan bencana baru yaitu, KEBODOHAN DAN KETIDAKADILAN.

Sebuah sistem online dibuat oleh sekolah diseluruh indonesia dengan berbagai macam kecanggihan, salah satunya ulangan sistem online. Sistem ini mempermudah guru dan murid dalam menghemat waktu dan menghemat alat tulis khususnya kertas. Namun, bagaimana jika sistem ini tidak dilakukan dengan aman dan terkendali?.

Apanya yang tidak terkendali?

Keamanan dari sistem ini itulah kendalanya. Keamanan yang kurang membuat banyak siswa dapat mencari google dalam melakukan pekerjaannya.

"Sistem ini sudah aman, siswa yang keluar dari sistem otomatis akan keluar dan tidak dapat memasuki sistem untuk menjawab soal."

Ini adalah kebohongan yang mereka ucapankan didepan para murid dengan tujuan menakuti dan mencengah kebohongan terjadi namun, semua itu percuma jika siswa yang keluar dari sistem akan mendapatkan sandi/token untuk memasuki sistem kembali. Mereka akan membuat berbagai alasan untuk melindungi kebohongan mereka. 

Lalu bagaimana dengan mereka yang berbuat dengan jujur dan sepenuh hati?

Tidak ada yang akan mempedulikan mereka. Para pembuat sistem dan pelaku hanya akan membuat mereka menderita dan tersiksa atas kejujuran yang mereka lakukan.

Sekolah harusnya tempat untuk membuat manusia menjadi lebih pintar. Benar memang pintar namun, pintar dalam kebohongan. Lalu apa gunanya ulangan atau penilaian jika hasil dan jawaban mereka adalah otak dari AI. Apa gunanya pengajaran guru jika pada akhirnya mereka tidak akan menjawab penilaian dengan pikiran dan pengetahuan dari guru?. Jika memang begitu maka guru tidak dapat mengajar bahkan membagikan ilmu yang sudah mereka peroleh. Semua akan sia-sia.

Bukankah lebih baik menggunakan sistem tulis dibandingkan online jika lebih merusak sumber daya manusia indonesia?

Indonesia sudah menjadi negara dengan kepintaran yang rendah lalu mengapa sekolah yang menerapkan sistem online tanpa keamanan yang baik malah berbuat sebaliknya. MEREKA MENGHASIL GENERASI PENERUS BANGSA YANG BODOH.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

KRITIK SENI KARYA AFFANDI [THREE MOODS]