RUMAH BERAIR
Di sebuah rumah yang cukup tertata dengan rapi terdapat seorang anak gadis perempuan dengan rambut yang diikat layaknya ekor kuda. Gadis itu bernama Ara, ia tengah berkutat dengan buku-buku tebal di tangannya tidak lupa dengan headphone dan kacamata hitamnya.
"Aku harusnya memperhatikan Pak Aries ketika menjelaskan materi ini kemarin." Katanya sambil merebahkan tubuhnya di atas kasur kemudian menutup wajahnya dengan buku.
"Mengapa hidupku seperti ini? aku rasa aku belajar dengan baik waktu ini tapi, mengepa nilai ulanganku hanya segini?." ucapnya sambil melihat nilai ulangannya.
"Aku hanya mendapat 76 padahal aku selalu begadang ketika belajar bahasa tapi......tapi....kenapa hanya segini?." ucapnya meratapi ketidakadilan yang ia rasa.
Ara pikir ulangannya besok nilainya akan hancur juga apalagi setelah mendapat nilai 76 ia selalu dihantui rasa kecewa yang amat berat. Jujur orang tuanya tidak pernah memaksanya untuk mendapat nilai bagus sekalipun namun, entah mengapa dirinya selalu menginginkan yang terbaik dan sempurna. Ia selalu menghukum dirinya ketika tidak mendapat nilai sempurna ketika ulangan entah itu pukulan atau tamparan untuk dirinya sendiri, ia rasa ia pantas mendapatkannya.
"Ini bukan yang pertama kali tapi, kenapa rasanya selalu menyakitkan."
Ia teringat beberapa minggu lalu, ia bercerita kepada ibunya ia ingin berhenti untuk bersekolah, bukan tanpa alasan, ia sudah lelah dengan kehidupan sekolah. Kepala sekolahnya selalu berkata, semua murid harus datang ke sekolah dengan senyum dan kebahagiaan namun, yang Ara rasakan adalah sebaliknya, ia rasa pergi ke sekolah adalah hal paling tidak menyenangkan dalam hidupnya.
"Apakah aku tidak ada kelebihan lain? aku tidak cantik, tubuhku juga tidak bagus, kulitku hitam dan aku juga bodoh, apa yang bisa aku banggakan dari diriku sendiri?" Tanyanya lagi.
Ara terus memikirkan hal-hal itu hingga tanpa sadar ia terlelap dan mulai menutup matanya dengan damai. Namun, belum ada satu menit ibunya malah memanggilnya.
"Ara...keluarlah dulu sebentar, belikan ayah arang untuk memanggang!." Teriak ibunya dari luar. Ara bangun dari tidurnya yang belum sampai ke alam mimpi. Ia menggerutu dengan kesal,
"Kenapa...? kenapa aku yang harus berbelanja sih? mengapa hidupku tidak pernah berjalan mulus?." ucapnya.
Walaupun ditengah kekesalannya Ara tetap pergi menghampiri ibunya. Terlihat ibunya sedang membersihkan ikan yang seperti baru saja dibeli sedangkan ayahnya tengah duduk sambil menyeruput kopi hitamnya lalu menatap dirinya dan berkata,
"Kamu jangan hanya diam dikamar saja, kadang-kadang jalan-jalan keluar, cari angin biar nggak penyakitan." Diakhiri tawa khas ayahnya yang Ara rasa cukup menyebalkan.
"Aku kan sedang sibuk dengan pekerjaan di sekolah, nggak ada waktu buat main-main atau jalan-jalan. Ayah gimana sih?" Jawabnya dan mendapat anggukkan dari Ayahnya.
Ara sebenarnya cukup kesal dengan kedua orangtuanya. Ara tahu kedua orang tuanya sering mendengar ia menangis di kamarnya namun, mereka tidak pernah menenangkannya. Ara tidak tahu mengapa orang tuanya tidak pernah memperdulikan dirinya, ia rasa mereka hanya memperdulikan kakak laki-lakinya yang telah bekerja menjadi seorang polisi.
Kakaknya bernama Arma, hanya beda 4 tahun dengan Ara namun, kakaknya berbeda dengannya. Kakak Ara pintar, kulitnya putih dan ia juga tampan bahkan sangat, sangat tampan. Kakaknya telah menjadi seorang polisi dan hal itu tentu membuat orang tuanya bangga namun, Ara merasa apa yang orang tuanya lakukan padanya dan kakaknya adalah suatu hal yang berbeda, sangat berbeda.
"Arma tadi nelpon, dia nanyain kamu." kata ibunya sambil masuk ke dalam dapur.
"Apa katanya?." Tanya Ara
"Dia mau pulang makanya sekarang mau tak masakin." ucap ibunya lagi
"Ohw...."
"Kamu kalau ditanya Arma mau apa, bilang jangan ya biar uang kakak nggak habis, kasihan dia." kata ibunya
"Iya, Ara ngerti kok. Jadi, apa saja yang harus dibeli? biar cepet Ara mau belajar besok ulangan bahasa." Katanya kemudian mengambil jaket hijau kesayangannya.
"Ini, beli arang, cabai, minyak sama kunyit." Perintah ibunya sambil memberikan uang 50-an kepadanya.
Ini adalah salah satu perbedaan perlakuan orang tuanya kepada ia dan kakaknya. Ketika kakaknya pulang makanan enak pasti akan ada tapi jika tidak, hanya ada makanan seadanya itu membuat Ara kesal. Memang ia juga tidak pantas dibuatkan makanan enak?.
Sebelum Ara berangkat ia terdiam sejenak, ia berpikir haruskah ia berjalan-jalan sebentar sambil memikirkan ulangan besok dan keadaan keluarganya ini?. Memikirkan terpaan angin dan pantai, ia rasa ia akan menyukainya. Ara memutuskan akan pergi ke pantai hari ini.
"Ibu, bolehkah aku berjalan-jalan sebentar sebelum pulang?." Tanya Ara
"Boleh tapi, jangan terlalu lama ya nanti kakak cepetan pulang." Jawab ibu sambil membersihkan ikan.
Ara segera memakai helmnya dan menghidupkan motornya lalu keluar dari halaman rumah. Angin yang bertiup membuat badan Ara yang awalnya panas menjadi dingin dan menyegarkan. Ia menutup matanya sejenak menikmati kesegaran terpaan angin yang ia rasakan. Ia berhenti di depan toko yang mungkin hanya berjarak 500 meter dari rumahnya. Setelah ia membeli semuanya ia kembali menjalankan motornya dan menikmati kembali terpaan angin. Ia pun mulai berpikir tentang kehidupan yang ia jalani. Menjadi seorang siswa SMA benar-benar membuatnya stres dan tertekan ditambah perilaku orang tuanya kepadanya.
"Kenapa aku tidak pernah mendapat waktu untuk bersenang-senang? Semuanya dipenuhi oleh tugas dan ulangan. Aku juga ingin istirahat dan menonton film seharian." ucapnya
"Mengapa mereka selalu sangat memperdulikan kakak? apakah mereka tidak menyayangiku?" Katanya lagi lalu ia bernyanyi pelan sambil melihat pengendara lain di lampu merah.
Dalam hati Ara bertanya, "Apa hanya aku yang tertekan disini?."
Ara segera menggelengkan kepalanya dan berkata dengan pelan, "Mungkin saja orang-orang ini juga sama denganku, mereka keluar untuk mencari inspirasi dan menghilangkan lelah atau mungkin..... hal lain?. Memangnya aku saja yang punya masalah? manusia lain juga punya masalah, dasar bodoh."
Ia terus bergumam sepanjang perjalanan, "Kapan aku berhenti mengalami kegagalan?." tanyanya kepada dirinya sendiri disertai tetesan air mata yang tidak sadar jatuh di pipinya.
"Aku selalu berusaha, terus berusaha bahkan, aku tidak pernah tidur cukup namun, aku selalu gagal, aku....aku merasa tidak puas dengan apa yang aku dapatkan. " ucapnya lagi
Ara terus mengendarai motornya hingga ia tiba di pantai. Ia duduk sambil melihat gemburan ombak yang terasa sangat menyegarkan.
"Iya, hidup memang seperti ombak setelah ke tepian mereka akan kembali ke laut lagi dan ke tepian lagi, itulah hidup." ucapnya sambil menghembuskan napas.
Namun, hal ini membuatnya tersadar. Ia seharusnya menikmati setiap momen dalam hidupnya. Ia harus bersyukur atas apapun yang terjadi di hidupnya. Ia harus menikmati ini, masa ia penuh dengan tugas dan ulangan, penuh dengan kegagalan dan ketidakadilan yang rasanya membuat ia ingin mati.
Ara cukup sadar akan apa yang terjadi, ia mulai mencoba menikmati gemburan ombak secara langsung. Ia memberanikan diri merasakan air laut yang dingin. Ia berjalan dengan berani hingga ke tengah pantai. Tanpa takut ia terus melangkahkan kakinya lebih ke tengah pantai namun, ia mulai sadar akan semakin jauh ketika celana yang ia gunakan mulai basah.
"Tidak!!Aku tidak suka basah!!." Teriaknya lalu berlari menjauhi air laut kemudian tertawa.
Sesampainya dirumah Ara memberikan belanjaannya kepada ibunya.
"Kok lama banget belanjanya?." Tanya ayahnya lagi.
"Kan, Ara udah bilang mau jalan-jalan dulu." Katanya lalu berlari ke kamarnya.
Kemudian, ia mengambil bukunya kembali.
"Apapun yang akan terjadi besok dan seterusnya, aku sangat menikmati hari ini. Mau ulanganku hancur atau tidak aku tidak peduli, yang penting aku sudah berusaha. Kalau gagal? ya....namanya juga hidup ha…ha…ha…." ucapnya sambil tertawa.
Namun, nyatanya Ara tidak pernah menghiraukan celananya yang basah, ia tidak pernah memberikan belanjaan ibunya bahkan, hidup seperti orang yang tidak peduli, Ara tidak dapat memenuhi semua itu.
Ara telah mengakhiri hidupnya sendiri hari itu, dengan harapan nyata sudah hampir membuatnya hidup kembali. Namun, semua itu hanya menjadi harapan terakhirnya sebelum ia menutup matanya di tengah dinginnya air laut. Sampai akhirnya, Ara tidak pernah tahu apa yang terjadi dimasa depan bahkan seberapa besar cinta dan kasih orang tuanya.
Sejak saat itu laut akan menjadi tempat tinggalnya, tempat tinggal dimana ia menghembuskan nafas terakhirnya dan tempat tinggal yang akan membuat semua orang yang mencintainya mengingat bahwa laut adalah rumah terakhirnya.
Amanat:
Untuk pembaca cerita ini, jika kalian mendapatkan banyak ketidakadilan atau merasa selalu gagal jangan pernah sekalipun untuk mengakhiri hidup kalian sendiri. Mungkin, bunuh diri adalah pilihan terakhir yang kalian rasa akan melepaskan kalian dari semua penderitaan yang kalian alami namun, percayalah yang kuasa tidak akan pernah memberikan cobaan melebihi kemampuan kalian, tuhan memberikan itu semua karena tuhan tahu kalian mampu mengatasinya.
Jadikanlah laut sebagai tempat menumpahkan sedih dan air mata bukan jiwa dan hidup kalian. Penulis mencintai kalian.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar