Jumat, 21 Februari 2025

KRITIK SENI KARYA AFFANDI [THREE MOODS]

THREE MOODS

AFFANDI


Deskripsi: 

Affandi, ia adalah seorang pelukis besar Indonesia yang memiliki aliran ekspresionisme. Salah satu lukisannya yang terkenal adalah Three Moods, lukisan yang ia buat di tahun 1966 menggunakan cat minyak. Lukisan Three Moods tergores dalam kanvas berukuran 106 cm x 183 cm. Affandi melukiskan tiga wajah laki-laki yang memiliki warna yang berbeda dengan dominan warna primer. Ketiga laki-laki itu menunjukkan ekspresi wajah yang berbeda, ada yang tersenyum, berekspresi normal, dan sedih. Namun, mereka memiliki penampilan yang sama, rambut terlukis keriting pendek dengan jenggot panjang tak beraturan di wajahnya.  


Analisis formal:

Lukisan Three Moods menggunakan garis-garis abstrak yang membentuk objek di dalamnya. Garis-garis itu memiliki warna menghitam dengan tekstur tebal dan tegas. Selain hitam, garis tipis dan tebal juga dibuat dengan warna-warna cerah seperti hijau, kuning, dan merah. Warna dibuat keserasian yang harmoni dengan garis-garis yang ia buat. Melalui penggunaan warna dan garis Affandi mampu menciptakan kesan gelap terang yang nyata pada objeknya seperti, mata, hidung, dan gigi. Keserasian warna dan garis yang ia goreskan menonjolkan objek yang beraturan. Disamping tiga objek dominan itu, Affandi juga memberikan goresan warna tebal yang juga tidak beraturan sebagai latarnya. 


Interpretasi:

The Moods, seperti judulnya yang menggambarkan tiga perasaan yang dimiliki manusia. Warna kuning pada wajah pertama mengekspresikan perasaan bahagia, ceria, kedamaian, dan ketenangan. Pada wajah kedua, terlukis warna merah yang menyatakan perasaan marah, semangat, dan kemarahan dan wajah ketiga menonjolkan perasaan kesedihan, kegagalan, dan ketidakpastian. Affandi memberikan gambaran tentang perasaan yang dimiliki oleh manusia. Mereka memiliki perasaan yang cepat berubah, mereka dapat merasakan kebahagiaan, kemarahan, dan kesedihan. Perasaan ini akan terus-menerus menderita kehidupan manusia dan mereka akan selalu merasakannya terkecuali ketika kematian datang menghampiri mereka. 


Evaluasi: 

Three Moods merupakan lukisan ekspresionisme yang benar-benar menggambarkan ekspresi manusia. Setiap goresan warna dan garis yang diciptakan mampu menciptakan objek yang nyata. Dibandingkan lukisan The Scream, Edward Munch lukisan affandi memberikan padat yang harmoni sedangkan The Scream cenderung lebih kosong dan fokus hanya satu objek saja sehingga menimbulkan kesan monoton. Ekspresi yang dilukiskan Affandi mengekspresikan berbagai macam ekspresi yang beragam dibandingkan The Scream.  Secara keseluruhan Three Moods lebih melukiskan kesan ekspresi sesuai dengan aliran ekspresionisme yang dianutnya.

KRITIK SENI KARYA JEAN-FRANCOIS MILLET [THE GLEANERS]

THE GLEANERS

JEAN-FRANCOIS MILLET


Deskripsi: 

The Gleaners atau para pemungut adalah mahakarya Jean-Francois Millet. Millet membuat lukisan ini di tahun 1857 dan telah dipamerkan secara permanen di Museum Orsay, Paris. Lukisan berukuran 83,8 cm x 111,8 cm ini melukiskan tiga orang wanita yang sedang memungut sisa panen yang ada di hamparan sawah. Ketiga wanita itu berpakaian sederhana sambil memakai topi dan sebuah kain yang mereka jadikan wadah untuk memungut sisa dari hasil panen. Di belakang wanita itu terdapat kumpulan orang-orang yang tengah sibuk memanen hasil sawah. 


Analisis formal:

Dalam lukisan karya Millet, ia menggunakan warna berdominan hijau. Warna itu dipadukan dengan warna senada sehingga menimbulkan harmonisasi. Millet juga memberikan efek gradasi yang halus pada lukisannya. Ia mendetailkan setiap objek yang ia gores dengan kesan gelap terang. Selain itu, Millet menggunakan garis garis pendek tidak beraturan untuk menciptakan kesan ladang yang baru dipanen. 


Interpretasi:

The Gleaners atau para pemungut merupakan sebuah penggambaran keadaan kemiskinan yang Millet lukis. Tiga orang wanita yang sedang mencari sisa panen mengekspresikan betapa miskinnya masyarakat saat itu. Kemiskinan itu membuat mereka hanya bisa memungut sisa makanan yang ada. Kehijauan yang Mallet lukiskan menggambarkan kesuburan tempat itu tapi masyarakat nyatanya tidak dapat merasakan kesuburan itu dan tetap berakhir dengan keadaan miskin yang menyiksa. 


Evaluasi : 

The Gleaners merupakan benar-benar mahakarya besar dunia. Melalui sapuan hangat dan halusnya tergores makna mendalam tentang kehidupan. Dibandingkan lukisan The Hunters at Rest karya Vasily Perov, lukisan The Gleaners memiliki harmoni warna yang lebih selaras dan menyejukkan. Dibandingkan The Hunters at Rest yang menggunakan warna yang cenderung kontras. The Gleaners menonjolkan kesan halus dan sederhana yang menimbulkan kesan menyejukkan. Walaupun The Hunters at Rest tidak terlalu melihatkan ekspresi objeknya, lukisan The Hunters at Rest dapat dengan baik mengekspresikan makna dan pesan yang dilukiskan di dalamnya. Karya Millet menjadi sebuah kritik yang nyata akan kemiskinan yang melanda manusia walaupun berada dalam tanah yang subur. 


KRITIK SENI KARYA SALVADOR DALI [THE PERSISTENCE OF MEMORY]

THE PERSISTENCE OF MEMORY

SALVADOR DALI



Dekripsi:

The Persistence of Memory atau Ketahanan Memory adalah lukisan terkenal surealisme karya Salvador Dali. Dalam kanvas berukuran 24 cm x 33 cm ia melukiskan keadaan di pesisir pantai yang sedang terbit dengan barang-barang berserakan di sekitarnya. Salvador Dali melukiskan empat buah jam, dahan pohon tua yang patah, serta sebuah gundukan tanah yang menyiku. Bagian yang menarik dari lukisan The Persistence of Memory adalah empat buah jam yang meleleh. Jam pertama memiliki bentuk dan warna berbeda dengan ketiga jam lainnya, jam itu berwarna jingga dengan manik-manik bertaburan di atasnya. Jam kedua memiliki ukuran yang jauh lebih besar, ia meleleh di gundukan tanah yang menyiku. Jam ketiga berada di sebuah ranting pohon yang tua dan tanpa daun, ia meleleh dengan keadaan tergantung daan terakhir adalah jam ke empat, jam itu terbaring diatas kain putih yang menyerupai burung merpati. Kain itu tergeletak di atas pasir coklat dan menutupi sebuah batu. Salvador Dali juga melukiskan sebuah tebing yang kering di sisi kanan kanvas dan yang menarik perhatian adalah air pantai yang menyiku di ujung kanan kanvas. 


Analisis formal: 

Sebuah hal yang menarik dari lukisan ini adalah objeknya yang dominan terletak di sebelah kiri kanvas. Salvador Dali juga mendominasi bentuk objeknya dengan bentuk-bentuk geometris seperti lingkaran dan balok. Ia juga memberikan kesan sedikit kasar pada lukisannya. Langit yang digambarkan Salvador Dali diberikan kesan gradasi yang tidak terlalu sempurna sehingga warna biru dan kuning nya tidak tercampur dengan merata mengakibatkan muncul kesan titik-titik kasar. Salvador Dali tidak terlalu memainkan banyak olesan warna yang cerah. Ia hanya mendominasi lukisannya dengan warna-warna gelap seperti coklat, hitam, dan sedikit warna cerah seperti jingga, biru, serta putih. Sapuan warna yang halus dan harmoni menciptakan kesan gelap terang membuat setiap goresannya seperti objek yang nyata. Salvador Dali juga memainkan banyak unsur garis, seperti lurus tegas, lengkung, dan putus-putus


Interpretasi;

Melalui permainan kuas yang indah dan handal, Salvador Dali menyisipkan makna mendalam dalam setiap goresannya. Jam yang menjadi highlight lukisan ini mengekspresikan waktu yang sedang berusaha melawan kehancurannya. Jam itu juga melukiskan kenangan dan memori yang mencoba tetap mempertahankan setiap momen dan waktu di dalamnya. Jam berwarna jingga merupakan simbol kebahagiaan, kehangatan, dan ketenangan. Kain putih yang menyerupai merpati menciptakan kesan kedamaian, cinta, murni, dan ketulusan. Laut yang membiru dengan tebing kokoh di sisinya menciptakan kesan kekuatan dan ketahanan. The Persistence of Memory yang berarti ketahanan memori merupakan sebuah kenangan yang mencoba bertahan dalam menjaga dan melindung waktu-waktu indah, bahagia, kehangatan, ketenangan, damai dan cinta walaupun ia diambang kehancuran. 


Evaluasi:

Setiap goresan Salvador Dali memiliki nilai estetika yang tidak tertandingi dibandingkan lukisan terkenal lainnya. Cara ia menggambarkan setiap objeknya penuh dengan pertimbangan sehingga mampu menciptakan kesan yang nyata. Dibandingkan lukisannya yang berjudul The Great Masturbator, lukisan The Persistence of Memory terkesan sederhana dan menonjolkan objek-objek secara langsung. The Great Mastubator memiliki banyak objek-onbek tersembunyi didalamnya. Objeknya juga dibuat tanpa adanya pembatasan garis yang tegas sehingga objek terlihat abstrak sehingga sulit untuk mendeteksi makna yang terkandung didalamnya. The Persistence of Memory cenderung memfokuskan objek utamanya dengan bentuk-bentuk tegas sehingga tidak mengganggu fokus objek lainnya. Secara keseluruhan, The Persistence of memory telah mampu menciptakan karya luar biasa dengan sentuhan-sentuhan sederhana yang bermakna. 


 

KRITIK SENI KARYA BASUKI ABDULAH [PEMANDANGAN GUNUNG DAN SAWAH]

PEMANDANGAN GUNUNG DAN SAWAH

BASUKI ABDULAH


Deskripsi;

Pemandangan Gunung dan Sawah adalah sebuah mahakarya pelukis Indonesia bernama Basuki Abdulah. Basuki Abdulah menggores kuasnya diatas kanvas berukuran 120 cm x 200 cm. Dalam goresan kuasnya ia menggambarkan pemandangan sebuah gunung berdiri tegak dengan diselimuti putihnya awan dibalik langit yang membiru. Basuki Abdulah melukiskan hamparan kaki gunung yang menghijau dengan pohon dan semak-semak dibawahnya. Ia juga menggoreskan kuasnya membentuk hamparan sawah yang belum ditumbuhi padi. Di ujung hamparan sawah kosong itu ia membentuk 4 rumah sederhana. 


Analisis formal:

Basuki Abdulah menciptakan Pemandangan Gunung dan Sawah dengan permainan warna yang beragam untuk membentuk setiap objeknya. Pencampuran warna hijau tua dan hijau muda mampu memberikan kesan gelap terang dan menciptakan kesan 3 Dimensi yang nyata. Basuki Abdulah telah mendominasi lukisannya dengan warna hijau namun, ia juga menggunakan warna lain seperti putih dan biru. Warna putih ia gunakan untuk melukiskan awan dengan tekstur halus dan sedikit transparan di beberapa bagian. Selain itu, warna putih ia gunakan untuk menciptakan kesan tergenang pada sawah yang masih belum tertanami.  Basuki Abdulah menciptakan harmonisasi warna yang digunakan mampu memberikan kesan terang gelap. Ia juga memainkan peran garis untuk menambah kesan nyata, garis dibuat lurus dan berkelok sehingga menyerupai objek aslinya. Selain itu, Basuki Abdulah juga menciptakan lukisannya dengan komposisi yang simetris dengan penempatan objek yang seimbang di kanan dan kiri. 


Interpretasi: 

Pemandangan Gunung dan Sawah, seperti namannya lukisan Basuki Abdulah menggambarkan keadaan alam yang masih asri, bersih tanpa polusi. Warna hijau yang ia gunakan menggambarkan kesejukan, keasrian, kesuburan dan kedamaian yang dimiliki oleh alam yang masih asri. Langit berwarna biru mengekspresikan kehidupan, kebebasan, dan ketenangan, sedangkan warna putih mewakili keadaan yang masih bersih tanpa noda. Pemandangan Gunung dan Sawah Basuki Abdulah peringatan kepada umat manusia bagaimana keadaan alam yang seharusnya. Alam semestinya memberikan kesejukan, kedamaian, dan keasrian lalu menciptakan kehidupan yang bebas, tenang, dan bersih tanpa polusi. Namun, saat ini keadaan alam malah sebaliknya, udara dipenuhi polusi, pohon ditebang sembarang bahkan kesejukan tidak didapat lagi. Pemandangan Gunung dan Sawah menjadi pengingat keindahan alam yang masih belum tercemar seperti saat ini. 


Evaluasi: 

Basuki Abdulah memang pelukis maestro berbakat Indonesia. Melalui sapuan kuasnya yang halus dapat menciptakan sebuah lukisan penuh makna. Basuki Abdulah telah berhasil menciptakan nuansa baru baru melalui penggunaan warnanya yang sederhana namun tetap terlihat mewah. Dibandingkan dengan lukisannya yang berjudul Pemandangan di KIntamani, Pemandangan Gunung dan Sawah jauh lebih terlihat naturalis dengan penggunaan warna-warna nyata. Walaupun lukisan Pemandangan di Kintamani menggunakan lebih banyak kesan gelap terang yang menimbulkan kesan nyata namun Pemandangan Gunung dan Sawah lebih terlihat nyata dan naturalis dibandingkan lukisan Pemandangan di Kintamani Secara keseluruhan Pemandangan Gunung dan Sawah lebih terlihat nyata dan naturalis.


KRITIK SENI LUKISAN STARY NIGHT [VINCENT VAN GOGH]

STARY NIGHT

Vincent Van Gogh


Deskripsi: 

Lukisan berjudul Starry Night merupakan salah satu mahakarya Vincent van Gogh yang dibuat pada Juni 1889. Lukisan berukuran 73,7 cm x 92,1 cm ini telah menjadi koleksi permanen di Museum of Modern Art (MoMA), New York sejak 1941. Dalam karyanya Van Gogh melukiskan pemandangan langit malam dengan hembusan angin berwarna biru. Langit yang digambarkan dipenuhi oleh cahaya bulan dan bintang yang bersinar terang. Van Gogh juga menggambarkan pegunungan yang membiru dengan perumahan di bawahnya. Bagian yang paling mencolok dari lukisan ini adalah pohon besar berwarna hijau gelap yang menjulang tinggi di sisi kiri kanvas. 


Analisis formal: 

Lukisan Starry Night memiliki ciri khas yang mendunia, yaitu sapuan kuas berputar yang menciptakan kesan gerakan angin. Van Gogh juga memainkan peran garis untuk membentuk setiap objek di dalamnya. Garis-garis itu memberikan bentuk dan tekstur yang nyata dan tajam. Starry Night menampilkan sapuan kuas ekspresif yang menciptakan kesan gerakan dinamis pada objek-objek dalam lukisan. Setiap sapuan garis dipadukan dengan warna yang menciptakan kontras antara gelap dan terang. Van Gogh mendominasi lukisan ini dengan warna biru. Selain biru, ia juga menambahkan sedikit warna untuk mempertegas lukisannya,  seperti putih, kuning, hijau, dan hitam. Ia juga menambahkan warna tebal di pinggir beberapa objek sebagai batas dengan objek lainnya sehingga lukisan yang dihasilkan memiliki bentuk yang lebih tegas dan tidak tercampur dengan objek lainnya. 


Interpretasi:

Seperti judulnya Starry Night atau Malam Berbintang, Van Gogh melukiskan keadaan suatu malam yang dipenuhi oleh bintang dan bulan. Garis-garis putus yang ia lukis menggambarkan kerapuhan dan ketidakpastian. Selain itu, ia juga menyisipkan perasaan emosi, keanggunan, ketenangan, dan harmoni. Di dalam karyanya Van Gogh menggambarkan kegundahan dan kekompleksan perasaan manusia yang penuh dengan harapan dan khayalan. Cahaya rembulan dan bintang mengekspresikan harapan datangnya kebahagiaan di tengah gelapnya malam. Pohon besar di satu sisi menghadirkan perasaan manusia yang terisolasi. Starry Night lebih condong menggambarkan keadaan psikologis manusia yang berbanding balik, mereka yang terisolasi merasakan kerapuhan, ketidakpastian sedangkan disisi lain mereka juga menginginkan keanggunan, ketenangan, dan kebahagiaan. 


Evaluasi: 

Lukisan Van Gogh ini benar-benar menciptakan kesan yang harmoni dan penuh emosi. Ia menggambarkan psikologis manusia secara mendalam dan tersirat di balik sapuan kuasnya. Dibandingkan lukisannya berjudul Potret Diri, Starry Night lebih terkesan berwarna dengan menonjolkan keseimbangan. Lukisan Potret Diri Van Gogh terkesan lebih sederhana walaupun menggunakan teknik penggambaran yang sama. Starry Night juga lebih menonjolkan perasaan emosi-emosi yang tersirat di dalamnya. Secara objek, Starry Night terkesan lebih menarik karena melukiskan berbagai bentuk, ruang, warna, dan kesan. Starry Night sungguh mahakarya besar dunia hingga saat ini. 


Kamis, 23 Mei 2024

 ABK

Apakah kalian tahu abk?

Iya, ini adalah aplikasi paling menakjubkan untuk diriku, pertama kalinya setelah diluncurkan oleh tempat bernama sekolah yang sungguh sangat diminati dan memiliki banyak prestasi.


Aku tahu masalah berbohong bukan lagi masalah yang patut disembunyikan, semua orang tahu itu.

Namun, apakah kebohongan ini harus tetap didiamkan?


Aku tak pernah menyangkal mereka yang berhasil karena aplikasi abk yang membantu mereka.

Mungkin kalian bertanya bagaimana sistemnya bukan?

Aku akan menjelaskannya.


Ini bukan aplikasi tapi sebuah web yang bernama abk. Web ini dibuat oleh tim informatika kami yang sangat luar biasa. Walaupun menggunakan handphone namun tidak ada siswa yang bisa keluar dari web untuk mencari jawaban. Jika mencoba keluar web akan keluar dan kami tidak boleh memasuki ruang ulangan lagi. Seperti inilah kurang lebih jalan kerjanya.


Kalian sudah tahukan apa yang membuat aplikasi ini menjadi neraka?


Semua kecanggihannya hanya kebohongan belaka. Tidak ada siswa yang keluar ketika mencari web lain. Lalu apa artinya?


Bayangkan kalian adalah satu-satunya orang yang berpikir jika tes ini harus dilakukan dengan jujur apapun itu, bayangkan kalian adalah makhluk paling jujur yang ada dan dengan kemampuan yang biasa-biasa saja kalian harus melawan ratusan teman kalian yang juga melawan kalian namun dengan senjata curian luar biasa.


Aku hanya berpikir bukankah sekolah adalah tempat untuk mengubah perilaku buruk menjadi baik? lalu apa yang terjadi di sekolah ini?


Aku menjadi saksi bisu betapa nerakanya aplikasi ini.


Kenapa tidak dilaporkan saja?


Guru sudah tahu itu namun mereka tetap diam dan akhirnya tidak ada anak yang keluar ruangan tanpa mengirim jawaban mereka. Aku menyebutnya kejahatan yang sudah diizinkan.


Lalu yang paling membuatku tertawa adalah ketika tempat ini memberikan kami pembelajaran tentang korupsi. Aku hanya bisa tertawa, kenapa?


Mereka mengajarkan kami agar tidak boleh korupsi tapi tanpa sadar mereka telah menghasilkan orang-orang yang akan menjadi calon korupsi dengan izin mereka. Sungguh miris......


yang paling penting web ini dan orang-orangnya telah membuat kerja keras bukan lagi acuan hasil. Aku membencinya, web dan orang-orangnya


Kamis, 07 Maret 2024

MITOLOGI YUNANI KUNO

sumber
sumber: https://www.rukita.co/stories/makhluk-mitologi-yunani-dan-kisahnya
 

MITOLOGI YUNANI

    Mitologi yunani adalah sekumpulan mitos atau legenda yang berasal dari Yunani kuno yang
berisikan kisah-kisah dewa dan pahlawan, sifat dunia serta asal-usul atau makna dari praktik ritual dan kultur orang Yunani kuno. 

    Mitologi Yunani secara eksplisit terdapat dalam kumpulan cerita dan karya seni Yunani kuno seperti lukisan vas dan benda-benda ritual untuk dewa. 

Asal:

    Tembikar Yunani kuno adalah karya seni tembikar yang dibuat oleh orang-orang yunani kuno yang jumlahnya sekitar 100.000 vas yang tercatat. Pecahan pot yang terkubur pada milenium pertama SM merupakan salah satu panduan utama untuk mempelajari kehidupan dan pemikiran orang-orang Yunani kuno.

Awal mula:

    Khaos adalah wujud awal dari Mitologi Yunani. Khaos dapat berarti kekosongan atau ketiadaan. Dewa-dewa Yunani dikatakan muncul melalui wujud ini, Khaos melambangkan sesuatu tatanan baru yang muncul mengenai penggabungan yang berlawanan atau terpisah jauh seperti langit dan bumi dan dewa dengan manusia.

Karena ketiadaan maka munculah dewa-dewi yang akan menghiasi cerita-cerita dalam Mitologi Yunani seperti:
1. Gaia
2. Tartaros
3. Eros
4. Erebos
5. Niks


sumber: Wikipedia
Gaia

   Ia adalah dewi perwujudan dari bumi dalam Mitologi Yunani. Sebagai  protogenoi pertama yang muncul setelah Khaos. Ia dikenal sebagai ibu dari semua. Melalui hubungannya dengan Uranus, Gaia melahirkan para Titan (penguasa bumi sebelum dewa Olympus), Cyclops (makhluk raksasa yang memiliki satu mata), Hekatonkhire (mahluk bertangan seratus). 

Kemudian melalui hubungannya dengan Pantos ia melahirkan dewi-dewi laut. 





Tartaros


sumber: https://id.wikibooks.org/wiki/Mitologi_Yunani/Dunia_Bawah/Tartaros

Tartaros diasosiasikan sebagai tempat yang jauh di bawah tanah yang kelam dan kejam (neraka). Tartaros digunakan Zeus (Dewa Olympus) untuk mengurus atau menghukum para perusak dan penjahat seperti para Titan dan Tantalus, raja dalam Mitologi Yunani yang jahat.








sumber: Wikibuku
Eros

Eros adalah kekuatan seksual yang memungkinkan terjadinya proses penciptaan untuk berlanjut. Eros memungkinkan personifikasi abstrak semacam Niks dan Erebos.

Selain itu, ia juga memungkinkan Gaia melahirkan tanpa memiliki pasangan yaitu: Uranus, Ourea, dan Pantos. 








Erebos

Erebos berarti kegelapan. Ia adalah suami dari Niks, bersamanya Erebos memiliki dua anak yaitu Aither (atmosfer dan ketenangan) dan Hemera (siang). 

Di beberapa sumber Erebos adalah ayah dari Hesperides (nimfa yang suka bernyanyi), Geras (penuaan), Hipnos (tidur), Moirai (Nasib) dll. 

Dalam beberapa konteks pada sastra Yunani Erebos adalah bagian dari dunia bawah yang mana orang akan mati ketika langsung melewatinya. Erebos juga dikatakan sebagai sinonim dari Tartaros. 


Niks

sumber: Wikipedia
    Niks adalah Dewi Malam. Ia juga adalah ibu dari Aither dan Hemera dengan Erebos. Ia juga memiliki 15 anak tanpa bersama Erebos. 

    Sebagai Dewi Malam tidak ada yang mampu melihatnya dengan jelas. Ia hanya muncul di bayang-bayang dunia dan dapat diterka sekilas. Di zaman seperti sekarang ia dikenal sebagai Zodiak Cancer yang digambarkan Niks yang tengah duduk diantara kepiting raksasa.              







Sekian Terima Kasih👏💓🙌

KRITIK SENI KARYA AFFANDI [THREE MOODS]